Waktu hari Rabu kemarin mahasiswa kelas A1 dan A2 tidak belajar seperti biasanya di kelas. Kita dapat kabar bahwa pelajaran MKDU Bahasa Indonesia akan mengadakan pelajaran Outdoor alias belajar di luar kelas. Kita diharuskan berkumpul di depan University Center. Waktu itu cuacanya sedang berubah-ubah, kadang panas, kadang teduh dengan angin sepoi-sepoi.
Karena tidak semua mahasiswa tahu bahwa kita akan belajar di luar kelas maka tidak semua mahasiswa datang ke tempat tersebut tepat waktu. Mereka hanya dapat petunjuk dari papan tulis yang berisikan pengumuman tentang mata kuliah Bahasa Indonesia ini. Banyak pertanyaan tentang hal ini, seperti kenapa kita dikumpulkan di depan University Centre? Akan ada kegiatan apa? Atau mau diapakan kita?
Pada pertemuan kali ini kami kedatangan seorang yang sudah senior. Beliau bernama Kang Ayi. Pada awalnya saya kaget dengan penampilan beliau. Rambutnya panjang, suaranya sangar, gayanya seperti preman yang kerap muncul di sinetron-sinetron. Hahaha… Maaf buat Kang Ayi jangan tersinggung. Tapi setelah dilihat lebih jauh akhirnya saya mengerti inilah yang disebut “Seniman”.
Kang Ayi akan membagi ilmunya tentang puisi. Pada awalnya saya tidak begitu tertarik dengan dunia puisi. Saya lebih tertarik dengan dunia peran seperti teater. Tetapi Kang Ayi telah membuka mata saya bahwa ternyata puisi juga kaya akan ekspresi. Puisi itu tidak sekedar untuk dibaca tapi juga harus benar-benar dihayati agar pesan dalam puisi itu tersampaikan dan membuat kita tidak merasa bosan.
Kang Ayi membacakan puisi sebagai contoh apresiasi puisi. Beliau membacakan sebuah puisi berbahasa sunda yang judulnya “Kongkorongok”. Puisi ini bercerita tentang masa pemerintahan Soekarno. Puisi ini juga berisi kritik-kritik untuk Soekarno mengenai cara beliau memerintah.Puisi ini begitu menarik karena cara pengemasanya yang sangat atraktif. Kang Ayi begitu menjiwainya seakan-akan karakter tersebut hidup dalam dirinya.
Lama-kelamaan rasa tidak tertarik terhadap puisi mulai hilang. Ternyata puisi tidak sebegitu membosankan seperti yang saya rasakan selama ini. Membaca apalagi membuat puisi tidak semudah yang kita kira. Tidak hanya merangkai kata biasa, tapi puisi juga harus memiliki makna baik yang tersirat maupun yang tersurat. Makna puisi juga bisa ditemukan dibalik simbol-simbol yang berada dibalik puisi tersebut.
Keindahan puisi tidak hanya terletak pada kata-katanya saja, tetapi juga dengan penghayatan atau cara kita membacanya. Seperti puisi yang Kang Ayi bacakan begitu terasa pas antara kata-kata dalam puisi dengan ekspresi yang beliau bawakan. Beliau begitu piawai dalam hal membaca puisi.
Membaca puisi itu tidak sulit, tetapi juga tidak semudah itu. Belajar puisi juga layaknya seperti belajar matematika. Semakin banyak berlatih maka semakin lancar kita dan semakin memahami kita pada puisi tersebut. Hanya saja matematika adalah ilmu eksak, jika soalnya sama maka jawaban dari semua orang yang mengerjakannya pastilah sama. Sedangkan jika membaca puisi belum tentu ekspresi atau gaya semua orang sama dalam membaca puisi yang sama juga. Itulah yang saya tanggkap dari penjelasan Kang Ayi.
Intinya semua yang Kang Ayi jelaskan dapat saya terima dengan cukup baik. Tetapi jika saya harus membawakan puisi dengan penghayatan seperti Kang Ayi sepertinya saya belum mampu. Saya harus belajar lebih banyak lagi.